Kamis, 20 Desember 2007
Not in the neverland tapi di Bandung, di kota yg memiliki potensi musisi paling creative di dalam negri inilah, Andhika, Ariel, Uki, Reza, Loekman dan Indra yg menamakan diri mereka peterpan memulai perjalanan kisah mereka. Dari album kompilasi "Kisah 2002 malam" garapan Kang Noey (yg basis Java Jive itu lho) dan di produksi Musica studio, kisah kesuksesan peterpan di mulai. Tapi sebelum itu, jauh sebelumnya di tahun 1997, ada perjuangan yg berliku untuk akhirnya mendapat moment yg happy ending. Andika (keyboard) yg punya jiwa bermusik dan ambisi yg besar, membentuk band Topi di tahun 1997, saat itu dia mengajak Uki (guitar) yg adik kelas Andika di SMU 2 Bandung. Uki lalu mengajak teman SMP nya, Ariel untuk bergabung dan memegang posisi vocalist. Andika juga mengajak teman mainnya Abel untuk memegang posisi basis dan Ari untuk posisi Drum. Dengan formasi inilah mereka mulai latihan bareng dan manggung kecil-kecilan, musik yg di mainkan beraliran Brits alternative. Sang drummer, Ari mengundurkan diri dan formasi band Topi pun undur satu persatu yg menandakan band ini akhirnya bubar tanpa sebab yg pasti.
Pada tahun 2000, Andika mengumpulkan lagi teman ngeband nya yg lulusan band Topi itu. Kali ini posisi drummer di pegang Reza, anak kuliahan dari Palu yg jago main drum. Untuk memberi warna musik yg lebih dewasa dan lebih kaya melody, bergabunglah Loekman, teman main kakanya Indra, yg akhirnya jadi lead guitar. Dengan posisi 6 personil inilah akhirnya mereka merasa puas. Setelah mendapatkan formasi tentu sekarang harus cari nama yg sesuai, yg bisa merepresentasikan musik mereka. Maka di ambilah nama peterpan yg dari pernjelasan Dika "dulunya dari peter band, peter artinya pemimpi yg pengin terbang", peterpan yg tokoh kartun anak2 menurut Dika telah mengalahkan karakter lainnya seperti Micky Mouse, Spiderman, X-men dll dalam pemilihan nama band dari Bandung ini (untung namanya gak X-men he..he..). Setelah di rembukan, peter band menjadi peterpan, mereka harap dengan nama tokoh kecil anak2 itu lah mimpi bermusik mereka bisa di bawa terbang dan di terima di seluruh negri ini. September tanggal 1 adalah terbentuknya peterpan secara resmi.
Perjalanan peterpan di mulai tahun 2001 dengan merambah dari café ke café di Bandung, harapan mereka saat itu sangat realistic dan simple, menjadi home band di café ternama di Bandung. Mereka main di café O'Hara dan Sapu Lidi dan bawain lagu-lagu top 40, alternative rock seperti Nirvana, Pearl Jam, Cold play, U2, Creed dll. Di café sapu lidi lah potensi mereka terlihat oleh Kang Noey yg memang sedang mencari band pengisi album kompilasi. Mereka mengirimkan 3 lagu demo, sahabat, mimpi yg sempurna dan taman langit. Lagu mimpi yg sempurnalah yg terpilih untuk di masukan ke album kompilasi Kisah 2002 Malam. Hasil dari penjualan album ini tidak mengecewakan, dan tak di sangka justru lagu mimpi yg sempurnalah yg jadi jagoan album ini dan mendongkrak penjualan sampai di atas 150,000 kopi. Penjualan yg bagus untuk sebuah album kompilasi. Otomatis mimpi yg sempurna merambah tangga radio2 dan dinyanyikan oleh banyak orang dan menjadi lagu wajib pengamen jalanan!!.
Dari sinilah pihak Musica tidak melewatkan potensi bermusik yg ada di ke 6 anak muda Bandung ini. Musica mempercepat pengajuan kontrak untuk debut album peterpan. Dan pada bulan Juni 2003 album debut “Taman Langit” di luncurkan. Back ground setiap personil juga aliran dan selera bermusik mereka yang berbedalah yang membuat album Taman Langit ini memiliki lagu-lagu yg bervariasi, baik dari segi materi lagu dan soundsnya. Kekuatan vocal Ariel dan "simplicity" yang unik dari lirik2 peterpan di sebut oleh penggemar musik mereka sebagai benang merah yg tidak bisa di hapus dari musik peterpan. Sentuhan-sentuhan individu dari personil seperti Andika di Keyboard, Loekman di guitar 1, Uki di guitar 2, Indra di bass dan Reza di drum, juga sangat mempengaruhi terbentuknya warna musik peterpan di album pertama ini.
Walau jadwal masih padat selama tahun 2003-4, dan klimaks nya pada tgl 18 July 2004, peterpan melakukan aksi gila dengan mengadakan konser di 6 kota dalam waktu 24 jam!!! Konser yg diberi judul “konser breaking Record” itu menembus rekor MURI, manggung dari kota ke kota di dua pulau dalam waktu 24 jam!. Konser di mulai hari minggu tgl 18 july di medan sumut, lalu di teruskan di Padang, Pekan baru Riau, Lampung, Semarang dan berakhir di Surabaya. Dan tidak menanti lebih lama lagi, yaitu pada bulan Agustus, album ke 2 peterpan “Bintang di Surga” dirilis. Dalam waktu yg sangat singkat, 2 minggu Bintang di surga telah terjual 350,000 kopi. Dari sinilah dari band yang biasa-biasa saja di kenal, peterpan tak di sangka menjadi " a phenomenon band" di Indonesia, mengikuti senior mereka dalam mencetak penjualan album yang tinggi.
Di album ke dua ini banyak kemajuan cara bermusik mereka. Dan kemajuannya bisa di rasakan di setiap lagu. Karakter vocal Ariel mulai mendapatkan jati dirinya, permainan guitar loekman dan Uki juga mulai melengkapi satu sama lain. Reza semakin berani memberi warna dan arah di setiap lagu. Andika makin creative dan jeli mengembangkan aransement di setiap track. Permainan bas Indra makin terasa groovenya.
PersoniL
ArielTerlahir sebagai Nazril Irham di Pangkalan Brandan, 16 September 1981 dari 3 bersaudara. Anak ketiga yg hobi banget sport ini dulunya bercita-cita pengen jadi arsitek. Sebelum peterpan menjadi a “phenomenon” band, Ariel masih tercatat sebagai mahasiswa jurusan Architecture di Universitas Parahiyangan, Bandung.
UkiLahir di Bandung dengan nama lengkap Mohammad Kautsar Hikmat, bergabung dengan peterpan karena memang semenjak di SMP, Uki seneng banget main musik. Ngefans banget sama kakak beradik Liam dan Noel Ghallager dari band Oasis itu, Uki memang sudah punya cita-cita dari kecil untuk jadi superstar. Di ulang tahunnya yang ke 17, cowok yang juga jago gambar ini dapat hadiah gitar listrik pertamanya. Bersama Ariel, Andika dan Indra dia membentuk band Topi di tahun 1997, yang adalah cikal bakal peterpan.
RezaLahir di Poso, 11 Maret 1977, Ilsyah Ryan Reza ninggalin kota asalnya untuk ke Bandung mulanya untuk kuliah. Tapi minat bermusiknya yg di mulai dari SMA kelas satu, bersama teman SMA dia membentuk band Crue 21, dan bawain lagu-lagu Godbless.
LoekmanLoekman Hakim, yang lahir di Cianjur pada tanggal 30 Desember ini dulunya punya hobbi main bola. Setiap hari Loek pasti main bola di lapangan bareng temen-temennya. Setelah lulus SMA, Loek mulai suka main musik dan alat musik yang di minati adalah gitar. Dari petikan gitarnyalah musik peterpan mempunyai warna musik yang unik dan menarik. Pertemuan dengan peterpan terjadi pada tahun 2000, saat band rancangan Andika ini mencari seorang gitaris tambahan untuk bersanding dengan Uki.
Album
Taman Langit
“Itu adalah cara saya untuk meminimalisir penggunaan kata-kata yang berkesan ‘cengeng’...,” jelas Ariel, vokalis peterpan, yang juga bertanggungjawab penuh untuk urusan lirik.
“Soalnya, saya sering diingatkan sama personil lain untuk bikin lirik yang sesuai dengan musik yang kami bawain. Masak, musiknya rock tapi liriknya cengeng?” lanjut kelahiran Pangkalan Brandan, 22 tahun yang lalu ini, sembari nyengir kocak.
Lepas dari perdebatan tentang baik-buruknya repetisi dalam sebuah karya, tapi musti diakui kalo gaya dan metode penulisan Ariel ini cukup unik. Dan, terbukti pula, cukup efektif.
Tentulah masih segar di ingatan, ketika sextet asal Bandung ini mencuri perhatian dengan singel Mimpi Yang Sempurna, tahun 2002 lalu. Terkemas di album kompilasi Kisah 2002 Malam, tuh singel langsung saja membuat Peterpan jadi salah satu new act yang patut diperhitungkan saat itu.
“Kami betul-betul nggak menyangka bakal direspon sedemikian rupa sama publik!” seru Ukie, seraya merepet, bercerita kalo mereka sempat merinding sewaktu ditonton 12 ribu orang dalam sebuah show.
“Itu rekor penonton terbanyak kami sejauh ini. Seneng banget rasanya, lagu kami bisa diterima sama banyak orang. Dihafal, dan dinyanyikan sama-sama...,” timpal Lukman.
Dengan modal itulah, peterpan kini kembali lagi dengan satu album penuh, berjudul (coba tebak!) Taman Langit.
Formulasi musik yang disuguhkan, masih nggak jauh berbeda dengan yang pernah mereka buat di singel Mimpi Yang Sempurna: Mood-swing-modern rock (kalo diterjemahkan secara bebas, artinya kira-kira adalah rock moderen dengan mood yang beraneka ragam).
Maksudnya?
Simpel aja. Menyimak 11 tembang yang terserak di album ini, akan langsung terasa kalo nggak ada satu alur mood yang dominan. Semuanya dibangun sesuai mood-nya masing-masing. Dari yang bernuansa “gelap” seperti Sahabat, dan Yang Terdalam, hingga yang bener-bener ceria dan up-lifting, seperti Topeng, atau Aku Dan Bintang. Nggak sedikit pula tembang yang mood-nya seperti berada di tengah, “gelap” namun juga ada sisi indahnya. Semua Tentang Kita, contohnya. Pokoknya, apa yang tersaji di album ini benar-benar beragam. Benar-benar membawa mood kita terayun-ayun dari satu ekstrim ke ekstrim yang lain.
Itu terjadi lantaran mereka memang nggak terlalu berpikir untuk membangun sebuah konsep bagi album ini. Proses kreatif yang dilakukan Ariel cs., diakui, memang cenderung diwarnai dengan spontanitas. Walaupun bukan lantas menjadi pure-jamming belaka.
“Biasanya, Ariel datang dengan lagu yang udah setengah jadi. Terus, baru kami permak di studio. Diaransir dan dipoles sesuai dengan kebutuhan...,” kilah Lukman.
“Sebagai band baru, kami emang masih mencari-cari cara yang paling jitu untuk bikin album. Dan sejauh ini cara yang paling pas buat kami ya yang seperti inilah. Jadinya ya begini ini....,” ungkap Ariel, polos.
Sadar sama hal itu, nggak heran kalo Ariel cs. lantas berpaling dan minta bantuan sama musisi yang udah lebih senior. Dalam hal ini, Noey, yang bassis Java Jive itu yang jadi pilihan mereka. Selain lantaran nih orang udah cukup makan asam garam di proses rekaman, secara personal mereka juga ngerasa klop betul dengan bassis yang sekarang ini juga sibuk mengurusi Caffeine ini.
“Kang Noey tuh nggak segan-segan untuk ngasi arahan sama kami. Udah gitu caranya juga asik. Jadinya kami juga nggak ragu buat banyak bertanya sama dia,” bilang Ukie.
Begitulah. Setelah kerja keras selama nggak kurang dari 2 bulan di dalam Kitchen Studio, Bandung, sekarang tiba saatnya bagi peterpan untuk mempersembahkan Taman Langit bagi publik musik Indonesia.
Harapan mereka nggak muluk-muluk: Menyapa kembali fans yang sempat terbuai dalam Mimpi Yang Sempurna. Sekaligus pula mencoba untuk meraih Sahabat-Sahabat yang baru, tentunya
Bintang Disurga
Belum hilang dari ingatan saat sekitar setahun lalu Peterpan sukses menyengat kuping sebagian kita dengan album debut mereka, Taman Langit.
Bermodal lirik yang banyak bercerita soal khayalan tentang bintang dan malam-malam sepi yang dibalut dalam kemasan musik bernuansa light rock (minim distorsi, namun sarat harmoni), saat itu nggak butuh waktu lama buat sederet singel dari tuh album - Sahabat, Topeng, Taman Langit, Kita Tertawa, atau Tertinggalkan Waktu - untuk mengisi sekaligus mengakrabi indera pendengaran.
Polah band asal Bandung ini pun melejit jadi salah satu hottest ticket di seluruh penjuru negeri. Konser mereka laris manis. Jadwal manggung pun nggak pernah sepi.
Enam ratus ribu lebih keping album kemudian, tiba saat bagi enam sekawan ini untuk kembali memperdengarkan cerita-cerita terbaru mereka. Sekaligus mengajak para “Sahabat Peterpan” kembali terlena dalam besutan harmoni yang walau terdengar simpel namun tetap kaya yang jadi kekuatan mereka. Lewat album teranyar mereka, Bintang Di Surga.
Nggak seperti album terdahulu, kali ini proses produksi yang dijalani sama Ariel cs. terbilang super cepat. Bayangin. Mulai dari menyiapkan, memoles, mematangkan, sampe merekam seluruh materi, semua dikebut hanya dalam rentang satu bulan lebih 4 hari! Adalah padatnya jadwal konser yang kudu rada dijewer sehingga proses rekaman kebut-kebutan itu terjadi.
“Waktu mulai masuk rekaman, kami udah punya 7 lagu. Tapi baru dua di antaranya yang ada liriknya. Itu pun judulnya masih tentatif. Jadi deh, satu bulan aku berkutat nyari tema yang pas buat dijadiin lirik!” kenang Ariel.
Sempat nyepi di kawasan Lembang, Bandung, selama 5 hari, tuh ide nggak nongol-nongol juga. Lagi-lagi hanya menghasilkan musik tanpa lirik. Kebuntuan ini, kata Ariel, adalah lantaran keinginannya sendiri yang pengen membuat lirik dengan tema yang berbeda dengan album terdahulu.
“Aku nggak pengen lagi berbicara soal bintang, impian atau khayalanku. Pengennya sih yang lain. Masalahnya, yang lain itu apa?” lanjutnya lagi.
Bahkan sampe singel Ada Apa Denganmu dilepas ke radio-radio seluruh negeri, mulai pertengahan Juni lalu, progres albumnya sendiri masih 60 persen.
“Gimana nggak jantungan?” seru Uki.
Lewat serangkaian proses yang spartan – pagi sampe malam take, dilanjut malam sampe pagi bikin lagu – akhirnya menjelang event Breaking Records 6 Cities in 24 Hours, 18 Agustus 2004 lalu, mereka berhasil ngumpulin 10 lagu. Tapi, ada tapinya nih, dua di antaranya tetap lyricless alias tanpa lirik.
“Saking frustrasinya, Ariel tuh nodong anak-anak buat bikin lirik. Kami masing-masing dikasih block-note dan bolpen, trus disuruh nulis apa aja… Hehehehe…,” cerita Uki.
Hasilnya?
“Tetep aja nggak ada yang kepake! Hahahaha! Nggak ada yang cocok buat dinyanyiin, katanya. Ada sih beberapa kata atau kalimat yang diambil buat dipake. Tapi nggak ada yang utuh. Jadinya ya, dia lagi yang buat semua…,” tambah gitaris berjenggot itu.
Pas satu hari sebelum event digelar, Ariel masih berkutat di studio untuk take vokal dua lagu terakhir tadi. Bisa dibayangin dong gimana mumetnya?
Lepas dari semua ketergesaan itu, hasil yang dicapai sama anak-anak Peterpan di album yang juga masih diproduseri sama Noey dan Capung ini sama sekali jauh dari kata mengecewakan. Sebaliknya, dengan berani mereka nawarin beberapa sentuhan baru di sektor musik.
Light rock masih jadi benang merahnya. Namun nuansa American yang sempet merebak kental di album perdana, kini mulai bercampur dengan berbagai unsur lain. Nggak mengurangi harmoni, hal itu justru memperkaya musik yang mereka sajikan.
Simak aja Ada Apa Denganmu, yang jadi singel kojo. Sejak awal kuping ini udah langsung ditonjok sama riff staccatto yang keluar dari besetan Loeqman dan Uki. Digenjot lagi sama refrain yang sangat sing-able, dan padatnya groove bentukan Indra dan Reza, serta nuansa spacey yang digeber sama Andika, nih lagu pantes banget dipasang sebagai jagoan.
Pola kayak gitu juga mereka pamerkan di Khayalan Tingkat Tinggi, 2 DSD (“Judul ini sama sekali nggak ada hubungannya sama isi lagu!” kata Uki.), serta Masa Lalu Tertinggal.
Sementara buat memacu semangat dan pengen ngerasain lagi vibe anthemic ala Topeng, langsung aja cabut ke Angin Utara (Aku). Dijamin, kaki-kaki ini ikutan menghentak bareng intro yang dibentuk lewat pola tribal-rhythming-nya Reza.
Kalo pengen menerawang, mengkhayal dan kembali ngerasain indahnya kesunyian di malam hari, silakan pasang kuping buat Mungkin Nanti, Di Belakangku, Ku Katakan Dengan Indah (“Kau hancurkan hatiku… Tuk melihatmu…”) dan Bintang Di Surga.
Jangan sampe dilewatin pula Di Atas Normal yang walaupun terdengar sebagai playful-song layaknya Taman Langit, namun menyimpan satu misteri, lantaran ada suara “mistis” yang ikut terekam di bagian vokal latar….
Album ini pun makin menandai vokal Ariel sebagai salah satu kekuatan utama Peterpan. Ciamik betul dia bercerita tentang apa yang dirasakannya lewat tarikan vokalnya itu. Berbisik, menangis pedih, dan kadang meraung marah. Nggak heran kalo nih orang ngotot buat menulis liriknya sendiri!
Satu bulan 4 hari, sepuluh lagu, plus sebuah rekor. Harusnya ini adalah sebuah permulaan yang manis bagi Peterpan buat meraih bintang di surga…
Alexandria
Disamping 5 lagu yang bener-bener gress, peterpan juga mengaransir ulang 5 lagu dari 2 albumnya terdahulu. 5 lagu baru adalah Tak Bisakah, Jauh Mimpiku, Membebaniku, Menunggu Pagi dan Langit Tak Mendengar.
Sedangkan lagu lama yang diaransir ulang adalah Sahabat, Aku & Bintang, Mungkin Nanti, KKDI serta Di Belakangku
Proses pembuatan album OST ini cuma membutuhkan waktu 2 bulan. Kebanyakan lagunya dulu baru lirik menyusul. Berbeda dengan album-album sebelumnya, kali ini seluruh personil peterpan menyumbangkan ide dan kreatifitas mereka. Kita bisa mendengar eksplorasi bermusik dari setiap personil.
Tantangan dalam pembuatan OST ini adalah peterpan harus menyesuaikan lagu dengan tema filmnya., yaitu tentang cinta segitiga. Lagu-lagu dan aransemen di album ini benar-benar mengikuti emosi dari karakter filmnya sendiri. Yang paling kental warna OST nya mungkin lagu ber tittle “menunggu pagi” yang di tulis oleh Uki dan lyric oleh Ariel. Secara live, lagu yang kaya akan sounds-sounds baru itu di bawakan dengan sempurna oleh peterpan. Di dalam albumnya sendiri, lagu ini memakai back ground dari potongan script film Alexandria itu sendiri.
|
